Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wow.... Guru Yang Mengajar Membosankan?


Wah, kalo kita bicara tentang masalah guru dalam mengajar, tentu ada tuh siswa dan siswi yang berpendapat, katanya ada guru yang mengajarnya membosankan, bahkan ada juga tuh guru yang malas mengajar. Emang ada, guru yang mengajar membosankan? Atau malas dalam mengajar? Ada kale. Yang lebih serem lagi, ada guru yang tidur saat mengajar (idih, plis deh. Kalo mau tidur cari tempat ya Pak, Bu, jangan didepan siswa dan siswinya). Allah swt. berfirman dalam Alquran.

Hai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

Emang sih di sekolah itu, guru-guru yang mengajar tidak semuanya sesuai dengan keinginan siswa dan siswinya. Maklumlah, guru juga manusia biasa yang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mungkin dalam mengajar ada yang enak mengajarnya, ada juga yang nggak enak mengajarnya (emang makanan, pake acara enak-enak segala, hehe). Terkadang ada juga yang mengajarnya seru, galak atau killer, ramah, membosankan, dan lain sebagainya.

Kemungkinan penilaian kita terhadap guru yang mengajar, relatif kali ye, tergantung pada kesukaan siswa dan siswi masing-masing. Jadi jangan heranlah, jika penilaian setiap siswa dan siswi itu berbeda-beda. Kita cukup menyikapi hal tersebut dengan tenang dan nyaman saja.

Tetapi untuk para guru yang malas dan tidur kalo ngajar, itu mah tetap kurang terpuji. Renungkanlah Firman Allah dalam Alquran berikut ini.

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

Umar bin Utbah memperingatkan guru anaknya, “Bahwa pembenahan awal bagi pendidik merupakan pembenahan awal juga bagi anak. Alasannya, bahwa mata hati anak tertuju pada apa yang dihadapannya. Apa yang baik bagi anak adalah apa yang dikerjakan pendidik dan apa yang buruk bagi anak adalah apa yang ditinggalkan pendidik. Anak-anak tidak dapat memahami konsep-konsep yang abstrak dengan mudah. Mereka tidak dapat menerima begitu saja nasehat dari gurunya, tanpa ada contoh yang dapat dilihatnya langsung.”

Jika kita dapat mengakrabkan diri kepada guru-guru kita, mungkin kita dapat menilai guru kita lebih objektif. Selain itu, menjalin komunikasi yang baik pada Ibu Bapak Guru, kita akan mendapat nilai lebih atau nilai plus dari mereka karena sikap kita yang terpuji (Alhamdulillah dapat bonus deh). Allah berfirman dalam Alquran.

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim.” (QS. An-Nisa: 1)

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat…” (QS. An-Nahl: 90)

Ulama ‘Aidh al-Qarni berkata, “Jika anda hidup dengan hati yang berkobar, cinta yang membara dan jiwa yang bergelora, akan lebih baik dan lebih terhormat daripada harus hidup dengan perasaan dingin, semangat layu, dan jiwa lemah.”

Semua tergantung kita, sobat. Bagaimana caranya agar kita bisa melakukan pendekatan kepada guru-guru kita (kita akan melakukan pendekatan yang positif tentunya).  Perhatikanlah sabda Rasulullah saw. berikut ini.

Sesungguhnya seseorang dengan kebaikan akhlaknya dapat menyusul beberapa derajat orang yang sholat pada malam hari dan berpuasa pada siang harinya.” (HR. Hakim)

Sayyid Qutb berkata, “Akhlak yang bersumber dari Alquran dan Sunnah merupakan akhlak yang sudah pasti, tidak berubah, dan tidak berganti.

Kemudian, kita juga harus menjaga sikap dan perilaku terhadap guru-guru kita. Kita tidak boleh bersikap sembarangan atau semaunya sendiri dan melakukan perbuatan yang tidak sopan terhadap mereka. Melakukan perbuatan yang tidak baik terhadap guru, hal itu merupakan suatu perbuatan yang melanggar peraturan sekolah, contohnya; melawan guru atau menyepelekan guru. Hal itu perbuatan yang tidak terpuji. Ingatlah seorang guru, selain menjadi pengajar buat siswa atau siswinya, guru juga merupakan pengganti orang tua kita di sekolah. Jadi, anggaplah mereka sebagai orang tua kita juga dan bersikaplah sebagaimana kita bersikap terhadap orang tua kita sendiri.

Anakku! Kamu mencintai kedua orangtuamu, karena mereka menjaga kesehatanmu dan melayani kebutuhanmu. Demikian pula terhadap Bapak dan Ibu gurumu, kamu harus mencintai dan menghormati mereka, karena merekalah yang mengajari dan mendidikmu, mencerdaskan akalmu, serta membimbingmu hingga kamu menjadi orang yang berguna dan berakhlak mulia. Mereka menerangkan suatu yang bermanfaat, hingga kamu dapat menggunakannya. Mereka menerangkan sesuatu yang berbahaya, hingga kamu dapat menghindarinya. Mereka berpersiapkan kamu dengan ilmu dan akhlak, hingga kamu mendapat martabat dan kedudukan yang mulia, serta disukai masyarakat.” (Abdurrochman Affandy).

Pelajar sudah seharusnya menjaga hubungan baik terhadap guru, karena hal itu sangat dianjurkan dalam Islam.

Ada masukan juga nih untuk para guru supaya menjaga perilakunya terhadap siswa dan siswinya. Perlakukanlah siswa dan siswi di sekolah seperti anakmu sendiri. Janganlah bersikap kasar terhadap para siswa dan siswi, sehingga mengakibatkan para siswa dan siswi membencimu. Allah swt. berfirman dalam Alquran.

 Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu berhati keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…” (QS. Ali Imran: 159)

Rasulullah menjelaskan dalam hadisnya.
Orang-orang yang pengasih akan dikasihi Yang Maha Pengasih. Kasihilah orang-orang yang diatas bumi, niscaya yang diatas langit akan mengasihi kalian.” (HR. At-Tirmidzi)

Selain itu juga, perbaikilah dan tingkatkanlah cara mengajar para guru sekalian. Jangan monoton cara mengajarnya, sehingga dapat menyebabkan siswa dan siswi menjadi bosan. Alangkah baiknya dan indahnya, apabila para guru menarik tuh dalam mengajarnya, sehingga siswa dan siswinya tidak mudah jenuh dalam belajar. Mungkin siswa dan siswi membutuhkan metode pengajaran yang kreatif, inovatif, dan lebih berekspresi. Mudah-mudahan para guru tidak kehabisan ide untuk mengajar para siswa dan siswinya. Kalaupun terjadi kehabisan ide, para siswa dan siswi harus memberikan pengertian terhadap gurunya dengan menunjukkan sikap yang santun. Bukan malah menklaim, bahwa sang guru itu kalo mengajar membosankan, mengejek-ejek guru dibelakang, menggunjing, dan sebagainya.

. Semoga tidak ada siswa dan siswi yang seperti itu ya. Karena, apabila kita melakukan perbuatan tersebut, itu termasuk perbuatan yang tidak terpuji. Kita tidak boleh melecehkan Bapak dan Ibu Guru kita, sebaliknya kita harus memuliakan dan menghormatinya. Rasulullah saw. bersabda dalam hadisnya.

 Bukan termasuk umatku yang tidak menghormati orang dewasa, menyayangi anak kecil, dan mengetahui kedudukan ulama.” (HR. Hakim)

Luqman berkata, “Hai anakku, bergaullah dengan para ulama dengan merendahkan diri, karena Allah menghidupkan hati itu dengan hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.”

Jika ada sesuatu yang kurang berkenan dengan gurunya, sikap seorang pelajar yang baik adalah dengan menyampaikan usulan langsung dengan cara yang baik dan sopan terhadap gurunya dengan penuh kasih sayang dan dengan hati. Karena nasehat dengan hati, maka akan sampai ke hati juga. Janganlah sampai menyakiti hati guru kita, apalagi sampe menjelek-jelekkan dibelakang dan menggunjingnya, serta seenaknya memfitnah gurunya. Na’uzhubillahi min zalik. Sungguh sikap ini merupakan sikap yang tidak terpuji. Ingatlah Firman Allah swt.

Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan diberi petunjuk (pula) ke jalan (Allah) yang terpuji.” (QS. Al-Hajj: 24)
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)
Barang siapa yang tidak mengasihi manusia, maka ia tidak dikasihi Allah.” (HR. Tirmidzi)
Apalah artinya seorang pelajar pintar dan memiliki ilmu yang tinggi tetapi tidak memiliki akhlakul karimah. Ketahuilah sobat, bahwa manusia itu yang dilihat adalah perilaku baiknya. Perilaku baik itulah yang akan dikenang hingga akhir hayat. Jadi yang dituntut bagi seorang pelajar harus memiliki kemuliaan dan ketinggian akhlaknya. Karena sesungguhnya  buah dari menuntut ilmu adalah memiliki akhlakul karimah.