Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Milikilah Wajah Cerah, Dengan Selalu Berhusnuzhon...


Pengertian husnudzon adalah berprasangka baik terhadap sesuatu hal. Husnudzon adalah lawan kata dari su’udzon yang berarti berprasangka buruk. Kita dianjurkan untuk berprasangka baik, jika kita ingin melakukan suatu hal atau mengalami kejadian-kejadian apa saja dalam hidup kita, atau berperilaku dalam hidup sehari-harinya. Bahkan pada saat kondisi yang paling sulit sekalipun, kita harus berprasangka baik dan berpikir positif terhadap masalah yang kita hadapi, karena sesungguhnya Allah beserta prasangka hambanya. Allah swt. berfirman dalam Hadis Qudsi.

          “Aku senantiasa mengikuti prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku. Jika ia 
          berprasangka baik, maka kebaikan pula yang mengikutinya. Demikian 
         pula, jika ia berprasangka buruk, maka keburukan pula yang mengikutinya.” 
                                                                (HR. Ahmad)

Tau nggak sobat, apa maksud dari “Allah beserta prasangka hamba-Nya?” Maksudnya begini, jika ada hambanya yang berprasangka buruk pada sesuatu hal, Allah pun ikut menyertai prasangka buruk terhadap hamba-Nya itu. Sebaliknya, jika hambanya berprasangka baik pada sesuatu hal, Allah pun akan ikut menyertai prasangka baik hamba-Nya juga.

Sifat husnudzon juga termasuk salah satu sifat terpuji. Oleh karena itu, sifat ini juga harus didasari dengan hati yang bersih dan tulus. Peganglah teguh Firman Allah swt. ini.

                  “Barang siapa berharap akan menemui Allah, hendaklah ia beramal 
                  dengan amalan yang sholeh dan janganlah mempersekutukan-Nya 
                 dengan sesuatu apapun (harus ikhlas).” (QS. Al-Kahfi: 110)

 Kita sebagai seorang muslim haruslah mencoba untuk menanamkan sifat husnudzon (berprasangka baik) dalam diri kita dan kita harus membuang jauh-jauh sifat su’uzhon (berprasangka buruk).

Ingatlah selalu sobat, setiap kali kita ingin melakukan sesuatu haruslah diiringi dengan berprasangka baik atau husnudzon, karena selain hati kita menjadi tenang, urusan kita juga akan dimudahkan oleh Allah swt. Sifat husnudzon harus kita tanamkan sejak dini pada diri kita, sehingga kita dapat memupuk sifat yang baik dalam diri kita dan menjadi kebiasaan kita dalam bersikap dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita tentu ingin, jika prasangka baik mengiringi kehidupan kita setiap harinya? Tentu dong, so pasti! Siapa coba yang nggak mau seperti itu?! Karena Allah saja langsung mengiringi prasangka-Nya terhadap hamba-Nya yang berprasangka baik.

             “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
              karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Teruslah berprasangka baik terhadap diri kita sendiri, baik itu dalam perbuatan maupun dalam pikiran-pikiran kita. Tetapi terkadang kita tidak sadar, kita masih saja berprasangka buruk terhadap diri sendiri, dengan berpikir bahwa kita ini bodoh, kita tidak mampu, kita akan kalah. Kemudian kita juga berkeluh kesah, dengan mengatakan, “aku bernasib malang,” “hidup kita tidak bahagia,” “kenapa hidupku begini.” Dengan berpikiran dan berkeluh kesah seperti itu akhirnya setan pun masuk dan melemahkan jiwa kita, serta membunuh kreatifitas kita.

              Orang bijak berkata, “Berpikir baik akan diikuti oleh kebaikan. Berpikir 
              buruk akan diikuti keburukan. Anda adalah apa yang anda pikirkan.”

Oleh karena itu, berpikir yang baiklah terhadap diri sendiri dan jangan berkeluh kesah, karena keluh kesah itu sebenarnya membuat hidup kita sedih dan merana. Sayangi dan cintailah diri kita sendiri, bahwa kita dapat menjadi lebih besar dari yang kita kira loh.

            “Maka berpeganglah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan 
            hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 144)

Betapa beruntungnya, kalo kita mempunyai sifat yang baik dan selalu diridhoi oleh Allah swt. Tentu hal ini sangat bermanfaat dan membawa berkah bagi kehidupan kita sebagai hamba-Nya yang lemah dan tidak memiliki sesuatu pun, selain semuanya adalah milik Allah Rabbul Izzati. Allah-lah yang Maha Kaya dan memiliki kekuasaan penuh terhadap hidup kita. Ingatlah Firman Allah ini.

                   “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi 
                    orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS. Al-Anfal: 64)

                 Hamba-Ku telah menyerahkan dirinya dan meminta perlindungan.” (HR. Hakim)

Jika kita berada di sekolah, iringilah aktifitas kita dengan sifat husnudzon. Kita berada di sekolah semata-mata untuk menuntut ilmu dan mencari pengalaman untuk kehidupan. Kita berniat beribadah hanya karena Allah. Insya Allah, kita akan dapat berhasil dan sukses dalam pelajaran kita, sehingga kita dapat mencapai cita-cita.

             Orang bijak mengatakan, “Alam ini dapat dipersempit dan dapat juga diperlapang.
             Bila sesuatu itu dibawa baik, maka dia akan menjadi baik dan kalau dibawa buruk,
             maka dia akan menjadi buruk, tergantung pada pikiran kita.”

            “Barangsiapa belajar suatu ilmu yang terkait dengan maksud karena Allah,
            tetapi dipelajari untuk tujuan keuntungan duniawi, maka ia tidak mencium harumnya
           surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Semoga saja Allah mengiringi kita dengan segala prasangka baiknya dan menjadi berkah bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat. Amin ya Allah.

Kemudian, mudah-mudahan di sekolah juga kita akan serasi dalam berteman dengan saling menyintai dan menyayangi teman-teman kita semua. Allah swt saja selalu menginginkan, agar kita saling percaya dan menganggap baik setiap maksud orang lain. Karena kita tidak boleh menilai yang buruk terhadap tindakan seseorang tanpa ada bukti yang jelas. Rasulullah saw. bersabda dalam hadisnya.

 “Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah sedusta-dusta berita. Oleh karena itu, janganlah kalian saling curiga, jangan saling menggosip, jangan saling mendengki, jangan saling membenci, jangan saling menyalahkan. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Tanamkanlah sifat saling percaya terhadap siapa saja, baik itu pada keluarga kita, saudara kita, teman kita, maupun kepada orang lain sekalipun. Kalaulah setiap diri saling mempercayai satu dengan yang lainnya, hal ini dapat meningkatkan dan membawa ketentraman dalam kehidupan.

Ali bin Abi Thalib ra. mengatakan, “Orang yang mempercayai orang lain akan memperoleh cinta dari mereka.”

Sebaliknya apabila kita berburuk sangka dan mencurigai orang lain, hal ini menyebabkan hubungan menjadi buruk dan bisa juga menjadi terputus.

 Ali bin Abi Thalib ra. berkata lagi, “Orang yang gampang berburuk sangka dan curiga berlebihan, dia tidak akan meninggalkan kedamaian antara dia dan orang yang dicintainya.”

Kemudian, kita juga dianjurkan untuk berprasangka baik terhadap lingkungan disekitar kita. Janganlah kita berpikir, bahwa kejahatan selalu mengelilingi kita, hal ini dapat membuat hidup kita menjadi suram dan tidak menyenangkan. Akibatnya, kita menjadi kehilangan kekuatan dan kemampuan. Waspada sih boleh, tapi jangan berlebihan juga. Peganglah nasehat bijak berikut ini.

“Kepercayaan kepada orang lain (berbaik sangka) dapat mengurangi tekanan jiwa.” (Ali bin Abi Thalib ra.)

Jadi dengan berhusnuzhon, kita akan terbebas dari tekanan jiwa, hati dan pikiran akan cerah, maka wajah kita pun juga akan berdampak menjadi cerah. Bibir akan mudah untuk tersenyum, dan senyumnya ikhlas lagi, hehe. Gak percaya? Coba aja, untuk selalu berhusnuzhon! setiap detik, setiap menit, setiap jam. Pokoknya setiap saat harus berhusnuzhon.

Wallahua'lambishowab.