Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kenapa Harus Putus Asa?.... Katakan Saja "Putus Asa, No Way!"


Sebagai umat muslim, kita tidak boleh berprasangka buruk atau su’udzon kepada Tuhan yang menciptakan kita, yakni Allah swt. Karena berprasangka itu sangat berpengaruh bagi kita dalam menjalani hidup ini. Simaklah Firman Allah dalam Alquran berikut ini.
Hai, orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…” (QS. Al-Hujurat: 12)
Rasulullah saw. bersabda dalam hadisnya.
Aku menurut prasangka hamba-Ku dan Aku menyertainya dimana saja…” (HR. Bukhori dan Muslim)
Yakinlah, bahwa Allah akan mengabulkan permintaan setiap hamba-Nya, siapapun dia. Tetapi tergantung hamba-Nya, jika hamba-Nya itu bersungguh-sungguh untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, Insya Allah ia akan mendapatkannya. Selain itu juga, hamba yang meminta harus benar-benar bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah. Sebagaimana Allah swt. telah mengingatkan kita dalam Firman-Nya.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Rasulullah saw. bersabda dalam hadisnya.
Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah menyerah.” (HR. Muslim)
 Berdoa merupakan bagian dari ibadah kepada Allah. Dalam doa terjalin ikatan yang kuat antara hamba dengan Rabb-Nya dan tidak ada keinginan berpaling kepada selain Allah dalam upaya menyingkap kesusahan dan menggapai keberhasilan.” (Yusuf Mansur)
Jika kita ingin menggapai suatu keinginan haruslah bekerja keras (berusaha) dan kemudian dibarengi dengan berdoa kepada Allah, bukan hanya duduk-duduk dan bersantai-santai saja, tanpa berusaha dan berdoa. Simaklah Firman Allah berikut ini.

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari)…” (QS. Al-Qasas: 73)

Rasulullah telah menjelaskan masalah ini dalam sabdanya.
Kalau kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki, ia berangkat pagi-pagi dengan perut kosong dan kembali dengan perut berisi.” (QS. At-Tirmidzi)

Allah itu cinta kepada seorang mukmin yang bekerja.” (HR. At-Thabrani)

Tetapi jika kita sudah berusaha dan bekerja keras, serta berdoa, tetapi Allah berkehendak lain, misalnya masih belum mengabulkan apa yang kita inginkan, kita harus bersabar dulu. Perbanyaklah terus usaha dan bekerja keras, serta memaksimalkan doa ditambah dengan kesabaran yang super ekstra, barulah Allah benar-benar akan mengabulkan keinginan kita. Dengan demikian, Allah telah melihat sudah sampai sejauhmana kebaikan hamba-Nya.

Kami balas orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik, daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 96)

Amr bin Ustman berkata, “Sabar adalah tetap bersama Allah swt. dan menerima cobaan-Nya dengan lapang dada dan senang hati.”

Ibnu Atha’ bersyair,         
Aku akan sabar agar Engkau rela
                                         Aku lenyapkan rasa keluh kesah
Agar Engkau pun juga rela
Aku merasa cukup
Apabila sabarku
Telah melenyapkan diriku
Jangan sampai kita memiliki perilaku berputusasa hanya karena kita belum mendapatkan rejeki dari Allah swt. Justru, sesungguhnya cobaan itu menjadi penambah motivasi kita, agar kita bertambah semangat dalam meningkatkan kualitas hidup kita dan ibadah kita. Jadi dari hari ke hari, kita harus lebih meningkatkan kualitas hidup dan ibadah kita, jangan sampai tidak meningkat karena akan merugikan diri kita sendiri. Allah berfirman dalam Alquran.
Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang yang sesat.” (QS. Yusuf: 87)
Imam Ghozali berkata, “Dalam berikhtiar mencari rezeki, hendaknya kita tanamkan kesabaran. Yakni sabar dalam menghadapi orang-orang, sabar menghadapi cobaan-cobaan, dan penghalang. Sabar apabila gagal sehingga tidak putus asa, tetapi bangkit dan mencari solusi lain.”