Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Caranya Menjaga Akhlak Kepada Orangtua?


Jagalah akhlak, karena akhlak merupakan cerminan diri kita sendiri. Memiliki akhlak yang baik sangat diperlukan sekali dalam menjalani hidup. Dalam Islam, kita diajarkan bertatakrama yang baik kepada siapapun juga, baik terhadap orangtua, guru, pemimpin, orang yang lebih tua atau muda, dan kepada orang kafir sekalipun. Allah berfirman dalam Firman-Nya.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Berbicara masalah akhlak kepada orangtua, sudah sepatutnyalah kita harus menjaga akhlak kepada kedua orangtua kita, apalagi kepada kedua orangtua kandung kita sendiri. Ingatlah, bahwa sesungguhnya ridho Allah, ada pada ridho orangtua kita. Rasulullah bersabda dalam hadisnya.

Keridhoan Allah tergantung kepada keridhoan orangtua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orangtua.” (HR. At-Tirmidzi)

Allah swt. berfirman dalam Alquran.
Dan Kami wajibkan manusia berbuat kebaikan kepada kedua orangtuanya…” (QS. Al-Ankabut: 8)

Kita juga tidak boleh membentak atau melawan kepada kedua orangtua kita. Berkata “ah” saja tidak boleh, apalagi sampai berkata kasar kepada mereka. Nauzhubillahi min zalik. Renungkanlah Firman Allah berikut ini.
Dan Tuhanmu memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada Ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka ucapan mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)

Orangtua harus dihormati dan disayangi, karena tanpa mereka, kita tidak mungkin ada bukan? Selain menghormati mereka, kita juga harus berjuang dan rela berkorban untuk mereka dan saudara-saudara kandung kita. Ada juga mungkin diantara kita yang menjadi tulang punggung keluarga. Aduh, pasti rasanya sangat capek sekali dan pegel-pagel sudah seharian bekerja, sabar ya. Tetaplah semangat, sobat! Itu perjuangan yang luar biasa dan pengorbanan yang tiada tara demi keberlangsungan hidup seluruh anggota keluarga kita.

Jangan bersedih dan jangan menjadi pemalas, sobat! Bekerjalah terus agar mendapatkan kehidupan yang sejahtera. Rasulullah saw. menjelaskan dalam sabdanya.
Ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah saw., orang itu sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkata, “Ya Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan fi sabilillah alangkah baiknya.”Bersabda Rasulullah saw., “Kalau dia bekerja itu hendak menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah. Kalau ia bekerja untuk membela kedua orangtuanya yang sudah lanjut usianya, itu fi sabilillah. Kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu adalah fi sabilillah.” (HR. At-Thabrani)

Barangsiapa yang diwaktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri, maka diwaktu sore itu pulalah ia terampuni dosa-dosanya.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Anak yang sholeh memang harus memiliki sikap birulwalidain (berbakti kepada kedua orangtua), sebaliknya anak yang tidak sholeh memiliki sikap uqulwalidain (durhaka kepada kedua orangtua). Oleh karena itu, berbaktilah kepada orangtua, niscaya kita akan selamat dalam mengarungi kehidupan di dunia, maupun di akhirat. Tetapi, tergantung kepada orangtua dulu nih, jika orangtuanya sholeh dan sholehah, baru tuh diturutin deh. Kalo orangtua gak sholeh dan sholehah males deh nurutin omongannya (ups.. salah ya?). Astaghfirullah. Jelas salah bro! Yang namanya berbakti kepada orangtua, ya berbakti saja dengan tulus ikhlas tanpa embel-embel. Sejelek apapun orangtua kita, mereka adalah orang yang telah membuat kita ada di dunia ini. Mereka juga orang yang telah membesarkan kita. Jadi, kita kudu berbakti kepada kedua orangtua kita. Rasulullah saw. bersabda dalam hadisnya.

Ada tiga kelompok orang yang tidak akan masuk surga; orang yang durhaka terhadap orangtuanya, orang yang merelakan keburukan terhadap keluarganya, dan seorang pemburu wanita.” (HR. Hakim)

Simaklah kisah di zaman Nabi Muhammad saw., pada suatu hari ada seorang pemuda yang masuk Islam, tetapi kedua orangtuanya masih kafir dan menyembah berhala. Pemuda tersebut bernama Mus’ab bin Umair. Mus’ab bin Umair datang kepada Rasulullah saw., kemudian menceritakan tentang perilaku orangtuanya yang menyuruhnya untuk kembali kepada agama nenek moyangnya, yakni menyembah berhala. Tetapi Mus’ab tidak mau mematuhi perintah kedua orangtuanya dan Mus’ab langsung mengadukan perilaku kedua orangtuanya kepada Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw. pun mengatakan, bahwa pilihan atau jalan yang diambil oleh Mus’ab merupakan jalan yang benar, tetapi disisi lain Mus’ab juga harus tetap mematuhi dan berbuat baik kepada kedua orangtuanya, kecuali jika orangtuanya menyuruh Mus’ab untuk kembali murtad (keluar dari Islam). 

Allah telah berfirman dalam Alquran.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah kamu kembali, maka Kami beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15)

Apalagi orangtua seorang muslim, wajiblah bagi kita untuk berbuat baik kepada keduanya. Ingat sobat! Selagi orangtua kita tidak memerintahkan dan mengajak kita untuk berbuat buruk dan berbuat dosa, kita berkewajiban untuk mematuhi perintahnya. Sebaliknya tidak ada kewajiban bagi kita untuk mematuhi perintah orangtua kita untuk berbuat buruk dan berbuat dosa.