Kehidupan Yang Unik: "Berteman Itu Indah"
Tahu nggak sobat, bahwa teman dan persahabatan merupakan
hal yang sangat berarti dalam hidup kita. Coba rasakanlah dalam kehidupan kita
sehari-hari. Teman adalah tempat kita bercerita, mengadukan segala keluh kesah (selain kepada Allah dan keluarga tercinta),
menumpahkan curahan hati, tempat berbagi, terkadang kita juga minta dukungan
kekuatan saat kita mendapat tekanan dalm hidup.
Pernahkah kamu
memiliki teman dekat? Sanking dekatnya, seolah-olah teman menjadi bagian yang
nggak bisa dipisahkan dari hidup kita. Benarkah? Ya, benarlah, masa ya benar
dong. Kalo begitu, berarti teman kita itu sangat penting dong buat kita. Emang
iya. Gimana coba, kalo kita hidup tanpa teman? Hidup kita akan menjadi sepilah.
Kita akan merasa nyaman dan senang dengan kehadiran
dan keberadaan teman disamping kita. Begitu juga halnya dengan remaja bukan?
Remaja sangat membutuhkan teman-teman sebayanya. Sampai-sampai nih, pengaruh
teman-teman sebaya itu lebih besar pengaruhnya dari orang lain. Ya, nggak
apa-apa toh, kalo nggak bermasalah. Yang menjadi masalah, apabila pengaruh
teman-teman sebaya itu membawa pengaruh yang tidak baik. Kok bisa? Ya, bisalah.
Pengaruh teman sebaya itu terasa sangat kuat sekali, karena adanya peer
pressure, bagi remaja yang suka bergabung dengan teman-teman sebayanya.
Apakah itu peer pressure? Jawabnya, peer artinya teman sebaya,
sedangkan pressure artinya tekanan. Jadi peer pressure artinya
tekanan dari teman-teman sebaya (dikutip dari buku O. Sholihin)
Ingatlah wasiat dari seorang ulama yang bernama Ibnul Qoyyim al-Jauziyah berikut ini. “Seberapa jauh ketakutanmu kepada orang selain Allah, maka diapun akan semakin berani menindasmu dan seberapa jauh harapanmu terhadap selain Allah, maka sejauh itu engkau akan mengalami kegagalan untuk mendapatkan yang engkau harapkan.”
Ingatlah wasiat dari seorang ulama yang bernama Ibnul Qoyyim al-Jauziyah berikut ini. “Seberapa jauh ketakutanmu kepada orang selain Allah, maka diapun akan semakin berani menindasmu dan seberapa jauh harapanmu terhadap selain Allah, maka sejauh itu engkau akan mengalami kegagalan untuk mendapatkan yang engkau harapkan.”
Kemudian adalagi namanya peer culture, yaitu
budaya teman sebaya, sehingga remaja menjadi sulit untuk menolak nilai-nilai
dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku ditengah teman-teman sebayanya. Misalnya,
kalo temannya merokok, jadinya ikut merokok juga. Kalo temannya pacaran…, kalo
temannya duduk kongkow-kongkow ngabisi waktu…, Yang ditakutkan, kalo temannya
narkoba…, (iih, sereemm buangeet sih). Kalo kita nggak ikutan? Siap-siap aja,
untuk diasingkan dalam pergaulan. Nah keadaan seperti ini bagi remaja, biasanya
sangat tidak nyaman. Nauzhubillahi min zalik! Rasulullah saw. bersabda
dalam hadisnya.
“Janganlah salah seorang diantara kamu jadi tukang ikut. Ia berkata, “Saya bersama manusia, jika manusia berbuat baik, maka saya berbuat baik dan jika manusia berbuat buruk, maka saya berbuat buruk. Tetapi mantapkanlah dirimu. Jika manusia berbuat baik, maka kamu berbuat baik dan jika mereka berbuat buruk, maka kamu jauhi keburukan mereka.” (HR. At-Tirmidzi)
Imam Al-Ghozali mengatakan, “Bahwa pembentukan perilaku yang baik dapat dilakukan melalui pergaulan dengan orang-orang pilihan dan sholeh. Demikian juga dengan pembentukan akhlak yang tidak baik. Sebenarnya tabiat yang baik dan buruk itu tidak dapat dipisahkan. Perilaku yang buruk juga dapat disebabkan oleh pergaulan dengan anak-anak yang hidupnya berfoya-foya. Oleh karena itu anak-anak harus dilindungi dari pergaulan dengan mereka.”
“Janganlah salah seorang diantara kamu jadi tukang ikut. Ia berkata, “Saya bersama manusia, jika manusia berbuat baik, maka saya berbuat baik dan jika manusia berbuat buruk, maka saya berbuat buruk. Tetapi mantapkanlah dirimu. Jika manusia berbuat baik, maka kamu berbuat baik dan jika mereka berbuat buruk, maka kamu jauhi keburukan mereka.” (HR. At-Tirmidzi)
Imam Al-Ghozali mengatakan, “Bahwa pembentukan perilaku yang baik dapat dilakukan melalui pergaulan dengan orang-orang pilihan dan sholeh. Demikian juga dengan pembentukan akhlak yang tidak baik. Sebenarnya tabiat yang baik dan buruk itu tidak dapat dipisahkan. Perilaku yang buruk juga dapat disebabkan oleh pergaulan dengan anak-anak yang hidupnya berfoya-foya. Oleh karena itu anak-anak harus dilindungi dari pergaulan dengan mereka.”
Sebenarnya hal
seperti itu nggak perlu terjadi, jika kita memiliki kecerdasan dalam bergaul.
Kita harus selektiflah dalam memilih teman dekat dan harus tahu tujuan dari
berteman. Kita harus sadar, bahwa disamping teman-teman yang tidak baik, masih
banyak kok teman-teman yang baik. Sesungguhnya teman kita itulah yang akan menjadi cermin untuk
mengetahui siapa diri kita. Allah berfirman dalam Alquran.
“Teman-teman akrab pada hari itu, sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)
Pegang teguhlah
sabda Rasulullah saw. berikut ini.
“Orang itu mengikuti agama teman dekatnya, karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat.” (HR. At-Tirmidzi)
Pesan Ja’far bin Muhammad mengatakan, “Wahai anakku, siapa diantara teman-temanmu yang marah kepadamu sebanyak tiga kali dan yang dikatakannya adalah kebenaran, maka jadikanlah ia teman.”
Tetapi walaupun begitu, kita nggak mesti memusuhi
teman-teman kita yang buruk. Kita boleh kok bergaul dengan siapa saja, asalkan
jangan membiarkan diri kita dipengaruhi oleh teman-teman yang buruk.
Seharusnya, kitalah yang harus mempengaruhi mereka kepada arah kebaikan.
Simaklah Firman Allah berikut ini.
“Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang baik dan tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan, seolah-olah dia telah menjadi teman yang amat setia.” (QS. Fushilat: 34)
“Jangan kamu berteman, kecuali dengan orang mukmin. Jangan izinkan seseorang memakan makananmu, kecuali dia orang yang bertakwa.” (HR. At-Tirmidzi)
Abdullah bin Alwi al-Haddad mengatakan, “Bagaimana menjadi seorang beriman, jika seseorang mencari kerelaan makhluk dengan murka Tuhan alam semesta?”
Disinilah sebenarnya letak dari persahabatan yang
sejati. Teman sejati itu, bukan hanya bersama kita disaat senang saja, tetapi
teman sejati harus bisa merasakan keadaan kita, disaat kita sakit, susah,
kekurangan, dan ditimpa musibah. Teman sejati itu harus bisa menerima kita apa
adanya dan care terhadap diri kita, disaat kita dalam keadaan
bagaimanapun.
Yang paling penting lagi adalah, bahwa teman sejati
harus bisa membimbing kita kearah kebaikan dan selalu meluruskan kita, kalo
kita terjatuh pada kesalahan dan mencegah kita dari perbuatan dosa. Itulah
pentingnya mencari teman yang bisa mengajak kita kepada kebaikan dan kebenaran
dalam hidup ini. Semoga kita menemukan teman sejati. Rasulullah saw. telah bersabda dalam hadisnya.
“Jangan kamu berteman, kecuali dengan orang mukmin. Jangan izinkan seseorang memakan makananmu, kecuali dia orang yang bertakwa.” (HR. At-Tirmidzi)
Abdul Hamid Muhammad Ghanam berkata, “Hendaklah kalian yang memilih teman bagi diri kalian sendiri, yaitu orang yang selalu menemani anda saat anda mengingatnya dan mengingatkan anda, ketika anda sedang lalai.”
