Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seri Untuk Pelajar: Jadilah Makhluk Sosial = Menghindari Diri Dari Sifat Egois


Manusia diciptakan dimuka bumi ini sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, kita haruslah bersosialisasi atau berbaur dalam kehidupan dengan orang lain untuk beraktifitas, maupun mengerjakan segala hal. Jadi jangan mau hidup sendiri, nggak enak sobat! Oleh karena itu sebagai sesama manusia, kita haruslah saling mengenal dan berinteraksi satu dengan yang lainnya, serta saling bergotong royong atau saling bantu membantu.

Bersosialisasi terhadap manusia lainnya dalam kehidupan kita, itu memang suatu keharusan dan kewajiban, karena manusia tidak bisa hidup secara individual atau menyendiri. Emang enak hidup sendiri? Tentu nggak enak dong. Kita memang memerlukan orang lain untuk berinteraksi, beraktifitas, dan meneruskan kehidupan kita.

Dari zaman dahulu, mulai dari zaman Nabi Adam, manusia sudah menerapkan budaya bersosialisasi terhadap sesama manusia, hingga kini pun budaya dan sunnah itu terus dijalankan. Tapi mungkin sekarang zamannya sudah berbeda dengan zaman dahulu. Sekarang kita sudah berada di zaman modern, tentu budaya sosialisasinya lebih berkembang dan lebih modern, seiring berubahnya zaman gitu. Misalnya dahulu, orang tidak pernah berinteraksi dengan handphone, sekarang orang sudah dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan handphone, facebook, twitter, dan sebagainya. Dalam Islam, pendidikan sikap untuk bersosialisasi dengan manusia lainnya terdapat dalam Alquran.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ternyata Allah swt. menciptakan manusia laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku untuk saling berinteraksi dan saling kenal mengenal antara satu dengan yang lainnya.

Bersosial dapat diartikan juga sebagai saling membutuhkan satu sama lain. Pengertian saling membutuhkan disini begini, bahwa diantara kita satu dengan yang lainnya ada keterikatan dan ketergantungan. Misalnya, kita membutuhkan makanan pokok untuk dimakan. Dari manakah makanan pokok kita? Siapakah yang menanam makanan kita? Jawabnya, tentu saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petanilah yang sudah bekerja keras menanam dan menghasilkan makanan pokok. Jika tidak ada petani yang menanam padi, darimana kita dapat memperoleh beras? Jadi, tanpa petani kita tidak akan dapat makan nasi. Artinya, disinilah letak adanya ikatan sosial kita, antara individu yang satu dengan individu yang lainnya selalu saling membutuhkan dan masih banyak contoh lainnya dalam kehidupan kita. Semoga hasil kerja keras petani dalam menghasilkan makanan pokok, menjadi amal ibadah buat mereka. Rasulullah saw. bersabda dalam hadisnya.

“Tidaklah seorang muslim yang bercocok tanam, kemudian ada burung, manusia atau binatang yang memakannya, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhori)

Jika kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering mengadakan acara-acara sosial, misalnya acara bakti sosial. Kegiatan bakti sosial bisa dalam berbagai bentuk, misalnya; kita sebagai warga masyarakat saling bergotong-royong untuk membersihkan lingkungan tempat tinggal kita, ikut serta menjalankan Siskamling, menjenguk teman atau tetangga kita yang sedang sakit, memberi bantuan kepada anak yatim dan fakir miskin, saling mengunjungi pada saat lebaran, ikut dalam kepengurusan jenazah apabila ada yang meninggal dunia, hadir dalam pengajian, melakukan sholat berjamah di masjid, dan sebagainya.

Semua itu menunjukkan, bahwa kita hidup senantiasa berinteraksi dan saling membutuhkan antara sesama. Oleh karena itu, kita tidak bisa hidup sendiri. Tapi kita sering egois, merasa bahwa kita hidup tidak butuh orang lain, nggak butuh teman, merasa super, dan memunculkan sifat-sifat egois lainnya. Padahal sikap kita itu salah! Hal itu tidak mungkin kita lakukan, karena sebagai manusia kita memiliki keterbatasan. Ingatlah pesan Rasulullah dalam hadisnya.

“Seorang mukmin yang bergaul dengan banyak orang, lalu ia sabar dengan tindakan mereka yang menyakitkan, maka itu lebih baik daripada orang yang tidak pernah bergaul dengan orang banyak dan ia tidak bisa sabar dengan tindakan mereka yang menyakitkan.” (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, ikutilah program-program yang berbaur dengan masyarakat dan lingkungan sekitar untuk melatih sikap sosial kita, seperti acara yang dibuat di RT (Rukun Tetangga), acara organisasi masyarakat, acara-acara di tetangga, dan sebagainya. Jangan sampe nggak ikut sobat, jika ada kegiatan sosial seperti itu, ntar disangka kitanya nggak punya sifat solidaritas lagi.

Sikap sosial kita, selain dapat menjalin silaturahim dengan lingkungan dan warga masyarakat, kita juga mampu meningkatkan kepedulian kita sebagai sesama manusia dan antar warga masyarakat. Allah swt. telah mengingatkan dalam Firman-Nya.

“…Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa’: 1)

Jika di sekolah, sikap sosial kita dapat kita tunjukkan dengan bagaimana kita berinteraksi dengan teman-teman kita, dengan Kepala Sekolah, Ibu dan Bapak Guru, Pegawai Tata Usaha, dan dengan warga sekolah yang lain, seperti dengan office boy, satpam, dan para pedagang di kantin. Kemudian, kita juga dapat melatih sikap sosial kita dengan mengikuti organisasi sekolah dan kegiatan estrakulikuler yang ada di sekolah kita, seperti; ROHIS, PMR, PASKIBRA, PRAMUKA, Pencinta Alam, KIR, Kesenian, Olah raga, Fotografi, Teater, English Club, dan lain sebagainya. Hal itu sangat baik dalam membina sikap sosial dan kepemimpinan kita. Ikutan ya dan aktifkanlah dirimu pada acara-acara dan kegiatan-kegiatan tersebut. Simaklah Firman Allah swt. berikut ini.

Katakanlah, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya (bakatnya) masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS. Al-Isra’: 84)

Sebenarnya pihak yang paling bertanggungjawab untuk membina sikap sosial kita adalah orangtua kita, karena seyogyanya sikap sosial kita harus dibentuk sejak dini, yaitu saat kita masih Balita. Rasulullah bersabda dalam hadisnya.

 “Seseorang yang membina anaknya adalah lebih baik, daripada ia bersedekah satu sha’.” (HR. Tirmidzi)

Irwan Prayitno mengatakan, “Dari kecil anak diajarkan untuk mandiri belajar makan dan minum sendiri, membuka dan memakai baju sendiri tanpa bantuan orang lain, bahkan mengerjakan semua kepentingannya sendiri. Keberhasilan dalam menjalankan kegiatan ini dapat mengantarkan keberhasilan anak dalam kegiatan sosialnya.”

Kemudian sikap sosial anak akan terus berkembang ke jenjang berikutnya, yakni saat sekolah di TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, dan seterusnya. Kemudian yang melanjutkan pembinaan sikap sosial itu selanjutnya adalah para guru kita di sekolah sebagai pihak kedua yang bertanggung jawab mendidik kita.