Obat Mujarab.... Yang Dapat Mengobati Perasaan Minder
Sifat minder adalah suatu sifat
dimana kita merasa bahwa diri kita tidak memiliki apa-apa dari orang lain,
merasa diri kita nggak mampu, dan merasa diri kita lebih rendah dari orang
lain. Sifat ini muncul, karena kita memiliki sifat kurang percaya diri.
Sehingga dampaknya kita akan menarik diri dari pergaulan. Hindarilah sifat
minder, karena sifat minder merupakan sifat yang tidak baik buat kepribadian kita.
Sifat minder dapat menyebabkan diri kita menjadi tertutup dan malas dalam
melakukan aktivitas. Usahakan agar kita jangan sering menyendiri, karena hal
itu akan menyebabkan diri kita menjadi dingin dan tertutup.
“Pribadi muslim yang percaya diri
tampil bagaikan lampu yang benderang,
memancarkan raut wajah yang cerah dan berkharisma. Percaya diri melahirkan
kekuatan, keberanian, dan tegas dalam bersikap. Orang yang percaya diri bukan
manusia kardus yang rapuh karena terpaan air. Orang yang percaya diri tegas
dalam mengambil keputusan dan mereka teguh mempertahankan pendiriannya. Orang
yang percaya diri telah memenangkan setengah dari permainan. Adapun orang yang
ragu-ragu, dia telah kalah sebelum bertanding.” (Toto Tasmara)
Almutanabi berkata, “Tidaklah
kudapatkan cela yang paling besar pada diri seseorang, kecuali kemampuannya
untuk sempurna tetapi ia tidak bejuang untuk meraihnya.”
Yang menyebabkan kita jadi minder,
salahsatunya adalah apabila kita habis mendapat sindiran atau ejekan dari teman
sekelas dengan kita atau teman seangkatan dan teman sekamar apabila sekolah di
pondok pesantren. Hal-hal yang seperti itu tidak usah dimasukkan ke hati. Betul
nggak, sobat! Kita harus memiliki mental yang kuat dan bersikap terbuka
(disaat-saat tertentu kita perlu juga bersikap tertutup, yang paling baik kita
harus bersikap sesuai dengan situasi dan kondisi). Allah telah berfirman dalam
Alquran.
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka
yang diolok-olokan lebih baik daripada mereka yang mengolok-olokan…” (QS.
Al-Hujurat: 11)
“Barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan dia tidak
mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya, selain Allah.”
(QS. An-Nisa’: 123)
Orang bijak berkata, “Kesuksesan
tergantung pada kekuatan untuk bertahan, kurang tabah merupakan salah satu
alasan orang gagal dalam kehidupan.”
Hal-hal yang tidak terlalu penting
tidak usah diperpanjang, apalagi sampai mempersulit diri sendiri, yakni dengan
memikirkan suatu hal yang tidak pasti, seperti ejekan atau cemoohan dari
teman-teman yang usil atau iri pada diri kita. Maka dari itu, anggap saja ejekan
dan sindiran itu angin lalu dan kita buktikan pada mereka, bahwa kita tidak
seperti apa yang mereka katakan dan tuduhkan. Allah berfirman dalam Alquran.
“…Dan janganlah sebagian kamu
menggunjing sebagian yang lain. Sukakah sebagian diantara kamu memakan daging
saudaranya sendiri yang sudah mati? Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Pemurah.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Rasulullah mengingatkan dalam
hadisnya dibawah ini.
“Maukah aku beritahu siapa yang
paling jelek diantara kalian? Yaitu mereka yang melangkah dengan maksud nanimah
(mengadu domba saudara), merusak ikatan cinta kasih, melakukan tindakan zholim
lagi hina terhadap orang-orang yang baik.” (HR. Ahmad)
Jadikan saja sindiran atau cemoohan
tersebut sebagai motivasi yang dapat membuat diri kita bangkit untuk menjadi
lebih baik lagi. Apabila kita dikatain atau diejek, jangan malah balas mengejek,
kecuali kalo kita tahu itu hanya bercanda. Tetapi jika ejekan tersebut beneran,
cukup balas dengan senyuman yang manis dan penuh arti kebaikan. Dan jadikanlah
ejekan itu untuk membangun diri kita. Simaklah Firman Allah berikut ini.
“Apakah sama antara yang baik dan
yang jelek? Tolaklah olehmu yang jahat dengan cara yang sebaik-baiknya, tentu
orang yang tadinya sebagai lawan akan segera menjadi kawan.” (QS.
Fushilat: 34)
Rasulullah saw. bersabda dalam
hadisnya berikut ini.
“Seorang muslim saudara orang
muslim, tidak boleh menganiaya dan tidak boleh dibiarkan dianiaya orang lain.
Dan barangsiapa yang menyampaikan hajat saudaranya, niscaya Allah menyampaikan
hajatnya. Dan barangsiapa yang membebaskan kesukaran seorang muslim di dunia,
niscaya Allah membebaskan kesukarannya di hari kiamat. Dan barangsiapa menutup
aurat kejelekan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kejelekkannya
dihari kiamat.” (HR. Bukhori dan Muslim)
“Kebaikan adalah akhlak yang baik
dan dosa adalah apa yang melintas dalam bedakmu, dan kamu membencinya bila
orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim)
Ibnu Taimiyah mengatakan, “Orang
yang beriman tidak mencari permusuhan atau melakukan balas dendam. Ia pun tidak
akan menyalahkan orang lain atau mencari kesalahan-kesalahannya.”
Cara menghilangkan sifat minder,
sebenarnya gampang sih, yakni dengan membuang jauh-jauh sifat minder, kemudian
berlatih untuk menumbuhkan sifat percaya diri. Tentu untuk melakukan hal itu
butuh latihan secara perlahan-lahan. Selain itu, kita juga dapat menumbuhkan
sifat-sifat positif lainnya yang dapat membangun diri kita. Misalnya,
menjalankan aktivitas-aktivitas yang positif, seperti mengikuti ekskul-ekskul di
sekolah, belajar bareng teman-teman sekolah, dan mengikuti kegiatan positif lainnya
yang selalu berinteraksi dengan orang lain atau orang banyak. Pokoknya, jangan
sampai tidak mengikuti kegiatan, sobat. Karena seringnya berkomunikasi dan
berinteraksi dengan orang lain atau orang banyak tersebut dapat menumbuhkan
rasa percaya diri kita. Jadi nggak minder lagi dong. Renungkanlah ayat Alquran
dibawah ini.
“Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dan mengatakan: “Janganlah kamu
takut dan janganlah kamu merasa sedih dan gembirakanlah mereka dengan jannah
yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat: 30)
Thoriq bin Ziyad berkata, “Hanya
ada satu pilihan, kedepan maju, dan terus maju. Tidak ada kata mundur. Kita
harus menang!”
Orang bijak berkata, “Aku percaya
kepada diri dan kemampuanku, karena aku tahu bahwa sebutir kepercayan diri
lebih besar nilainya daripada sekarung bakat yang tertidur.”
