Info Berguna Nih Buat Pelajar!... Ada Beberapa Cara Untuk Mempertahankan Motivasi Belajar
Setelah memotivasi diri kita untuk
rajin belajar, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan motivasi
belajar itu. Motivasi belajar memang harus dipertahankan, sobat! Jangan sampai
ada kata menyerah atau putus asa atau tidak semangat dalam belajar. Emang
biasanya meraih sesuatu itu lebih mudah sih, tapi untuk mempertahankannya
sulit.
Eits, tunggu dulu! Kayaknya
pernyataan itu tidak cocok deh untuk seorang pelajar. Sebaiknya pernyataannya
diganti aja menjadi begini, “Meraih prestasi belajar itu mudah dan harus tetap
dipertahankan sampai tetes darah yang terakhir.” Oke! (kayak pahlawan yang lagi
berjuang dimedan perang aje ye, hehe). Allah swt. telah berfirman dalam
Alquran.
“…kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fushilat: 30)
“…kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fushilat: 30)
Bagaimana caranya agar kita dapat
mempertahankan motivasi belajar atau menjadikan belajar itu sebagai panggilan
jiwa? Tentu ada dong caranya. Kira-kira apa saja yang dapat mempertahankan
motivasi belajar kita? Yuk, sama-sama kita cari tahu!
Menurut B. Renita Mulyaningtyas dan
Yusup Purnomo, ada beberapa cara yang harus kita lakukan untuk mempertahankan
motivasi belajar, antara lain sebagai berikut:
1. Kita harus
menerima realitas diri kita apa adanya.
Maksudnya, kita masih membutuhkan bimbingan dan arahan untuk berkembang menuju kedewasaan, yakni bimbingan dari orang-orang terdekat kita, seperti orangtua, keluarga, dan guru. Karakter dan bakat kita harus disadari sebagai kekayaan diri. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana memunculkan penghargaan atas kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri kita sendiri, sehingga kita dapat menghargai diri kita sendiri secara wajar dan diharapkan dapat mendatangkan kedewasaan untuk dapat mengambil pilihan yang bijak dan benar dalam hidup.
Maksudnya, kita masih membutuhkan bimbingan dan arahan untuk berkembang menuju kedewasaan, yakni bimbingan dari orang-orang terdekat kita, seperti orangtua, keluarga, dan guru. Karakter dan bakat kita harus disadari sebagai kekayaan diri. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana memunculkan penghargaan atas kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri kita sendiri, sehingga kita dapat menghargai diri kita sendiri secara wajar dan diharapkan dapat mendatangkan kedewasaan untuk dapat mengambil pilihan yang bijak dan benar dalam hidup.
2. Kita harus mau
mendalami kemampuan diri dan
bersedia menunjukkan segala potensi yang ada pada diri kita, tanpa merasa terpaksa.
3. Kita harus
berani menentukan pilihan dan mengambil keputusan tentang masa depan kita
secara bertanggung jawab. Ini
dapat memotivasi diri kita untuk mengembangkan potensi diri yang kita miliki.
4.
Kita harus mau berdialog dengan orang tua, keluarga, guru, dan
teman untuk sharing, kemudian saling memahami. Hal tersebut akan melahirkan perasaan diterima dan saling mengerti
kesulitan masing-masing. Hal ini dapat membantu kita untuk mencari jalan keluar
terbaik atas persoalan yang kita hadapi dan dapat membantu motivasi belajar.
Itulah tadi beberapa cara untuk
mempertahankan motivasi belajar kita. Semoga dengan mengetahui cara untuk
mempertahankan motivasi belajar tersebut, kita bertambah semangat untuk belajar
sehingga pada akhirnya, kita akan sukses dalam belajar dan dapat meraih
cita-cita. Allah berfirman dalam Alquran.
“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)
Jadikanlah hadis ini sebagai pegangan.
“Katakanlah, aku beriman kepada Allah dan istiqomahlah (teguh pendirianlah).” (HR. Muslim)
Maksudnya, kita
diperintahkan untuk beriman dan bersikap teguh pendirian atau mempertahankan
setiap kebaikan yang bermanfaat untuk diri kita. Sebagai seorang pelajar,
mempertahankan kebaikan disini maksudnya adalah mempertahankan motivasi untuk
terus belajar.
Selanjutnya, kita perlu juga untuk
mengetahui kategori motivasi belajar kita, karena hal itu dapat mendukung
kesuksesan kita juga dalam belajar. Menurut Waldi, ada empat kategori motivasi
belajar, yakni achiever, sociable,
conscientious, dan curious. Mari kita jabarkan keempat kategori motivasi
belajar tersebut, antara lain:
1.
Apabila kita memiliki motivasi
belajar achiever, berarti kita
belajar berorientasi untuk unggul dalam persaingan dan kompetitif.
Motivasi ini biasanya lebih dipengaruhi oleh keluarga atau teman.
2. Apabila kita memiliki motivasi
belajar sociable, berarti dalam
belajar, kita memiliki semangat kebersamaan, bersifat kooperatif non
kompetitif. Motivasi jenis ini lebih menyukai keberhasilan bersama.
3.
Apabila kita memiliki motivasi
belajar conscientious berarti kita melakukan kegiatan belajar, jika telah
mendapat petunjuk yang jelas dan terikat pada peraturan.
4.
Apabila kita memiliki motivasi
belajar curious, akan mendorong kita selalu ingin tahu, tidak suka
kemapanan, dan mendambakan perkembangan. Kita lebih menyukai hal-hal yang baru
untuk pengembangan keilmuan.
Sekarang, kita sudah mengetahui
beberapa kategori motivasi belajar. Hayo… kira-kira kamu termasuk kategori motivasi
belajar yang mana? Coba kamu cocokan deh, penjelasan yang ada diatas dengan
kategori motivasi belajar yang ada pada dirimu. Pilihannya nomor 1, 2, atau…
Jawabannya hanya kamu yang tahu dong. Dengan kita mengetahui kategori motivasi
belajar tersebut, diharapkan ada peningkatan dalam keberhasilan belajar kita
dan kita pun akan mendapatkan ilmu. Perhatikanlah Firman Allah swt.
sebagai berikut.
“Dan Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah itu sangat besar.” (QS. An-Nisa’: 113)
“…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)
Imam Syafi’i berkata, “Wahai saudaraku, kalian tidak akan menguasai ilmu, kecuali dengan enam syarat yang akan aku sampaikan; yaitu dengan kecerdasan, menuntutnya dengan bersemangat, dengan kesungguhan, dengan memiliki bekal (investasi), bersama pembimbing, serta dengan waktu yang lama.”
Wallahua'lambishowab.
