Cara Membersihkan Hati... "Jadilah Orang Pemaaf dan Lapang Dada"
Sebagai orang yang beriman, kita harus memiliki sifat
pemaaf dan lapang dada, karena itu akan menyebabkan kita mendapat keridhoan
dari Allah swt. Sifat-sifat terpuji, seperti pemaaf dan lapang dada juga
dimiliki oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Oleh karena itu tidak ada
salahnya dong, jika kita mengikuti jejak mereka? Toh, kita juga ingin
mendapatkan banyak kebaikan dan mendapat petunjuk dalam kebenaran. Allah swt. berfirman
dalam Alquran.
“Sesungguhnya pada Rasulullah (Muhammad) ada suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan pahala dari Allah dan hari kemudian, serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Terlebih lagi, jika kita memiliki sifat pemaaf dan
lapang dada, kemudian didasari dengan keikhlasan. Rasulullah saw. bersabda
dalam hadisnya.
“Sesungguhnya Allah swt. tidak menerima kerja seseorang, kecuali yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena mengharapkan keridhoan-Nya. (HR. An-Nasai)
“Sesungguhnya Allah swt. tidak menerima kerja seseorang, kecuali yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena mengharapkan keridhoan-Nya. (HR. An-Nasai)
Ingatlah, bahwa kita harus selalu memiliki hati yang
bersih dan perbuatan yang selalu benar. Niatkanlah selalu hal itu dalam hati
kita, tetapi niat yang baik harus diiringi dengan sifat dan perbuatan yang baik
dan terpuji juga. Dengan demikian, barulah kita memperoleh ganjaran yang dari
Allah swt. Seperti yang dikatakan Allah swt. dalam firman-Nya.
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalam-Nya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu…” (QS. Al-Baqarah: 25)
“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh ke dalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 14)
Setelah itu, perbuatan yang baik dan terpuji tadi,
kita simpan deh dalam lubuk hati kita yang paling dalam untuk dijadikan
kepribadian. Wow, keren banget pelajar seperti itu! Tetapi tidak mudah lho untuk
memiliki sifat baik, dibutuhkan kekuatan hati dan hati kita juga harus bersih,
serta kita harus tegar dalam menghadapi realita dan ujian untuk membuktikan perbuatan
baik kita. Sifat yang baik pada diri kita akan terbukti, setelah kita lulus
ujian dari Allah swt. Sebagaiman Allah swt. berfirman dalam Alquran.
“Alif Laam Miim. Adakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 1-3)
Sholikhin Abu Izzuddin, “Barangsiapa tidak menyibukkan diri dalam kebaikkan, niscaya ia akan disibukkan dalam keburukkan.”
Kita akan membahas sifat pemaaf terlebih dahulu.
Jika kita membahas sifat pemaaf, seru lho sobat. Kenapa demikian? Karena, sifat
pemaaf itu tidak hanya manusia yang punya, tetapi Sang Pencipta Alam Semesta (Allah
swt.) juga punya. Seperti yang terdapat dalam sifat-sifat Allah, yaitu al-Afwu
yang artinya pemaaf. Jadi, kita nggak perlu sombong dan memiliki sifat angkuh
sebagai manusia, sehingga terkadang kita tidak mau memaafkan orang lain yang
berbuat salah kepada kita.
“…dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 237)
Sedangkan Allah swt. sendiri aja Maha Pemaaf, masa
kita sebagai makhluknya nggak sih. Tega amat! Renungkanlah Firman Allah swt.
sebagai berikut.
”Dia yang menerima taubat dari para hamba-Nya dan memaafkan segala kesalahan. Dia Maha Tahu segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nur: 22)
Dalam tradisi atau kebiasaan masyarakat kita banyak
mencontohkan dan menganjurkan untuk saling memaafkan, misalnya pada waktu
menjelang puasa, pada Hari Raya Idul Fitri, dan Idul Adha, atau kita mempunyai
teman yang melakukan kesalahan baik di sekolah maupun dengan teman kita yang di
rumah, pasti akan disuruh untuk meminta maaf kepada orang yang telah dizholimi
atau apabila ada orang yang bersengketa dianjurkan untuk bermaaf-maafan. Siapa
yang duluan meminta maaf itu tandanya orang baik! Dalam Alquran Allah telah
berfirman.
“Jadilah kamu pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)
“Maka maafkanlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85)
Begitu indahnya memiliki sifat pemaaf, seindah puisi
dibawah ini yang berisi tausiyah untuk memaafkan. Mari kita resapi bersama-sama
syairnya!
Memaafkan
Memaafkan
Cipt. Evi Zahara
Saat-saat hati terluka
Saat-saat hati tergores
Pedih rasanya
Seperti disayat sembilu
Pernahkah engkau tahu
Betapa
sedihnya hati ini
Betapa pedihnya perasaan ini
Betapa pedihnya perasaan ini
Hatiku hancur berkeping-keping
Karena
terluka oleh ucapanmu
Karena
tergores oleh perlakuanmu
Oh,
sungguh kejamnya hatimu
Oh,
sungguh teganya dirimu
Menghancurkan hati ini
Memudarkan
cinta ini
Sesungguhnya aku lelah, teman
Menghadapi ucapanmu
Menghadapi
tingkahmu
Entah sampai kapan akan berakhir
Aku ingin
menjadi seorang hamba yang baik
Yang selalu menginginkan ampunan darinya
Yang selalu menginginkan ampunan darinya
Hanya ada satu kata untukmu
Yang keluar
dari lisanku
Aku memaafkanmu teman
Aku mencintaimu, saudaraku
Aku mencintaimu, saudaraku
Sekarang, pembahasan kita mengenai sifat lapang dada.
Tahu nggak sobat, bahwa sifat lapang dada itu adalah sifat yang mencerminkan
ketulusan dan kebaikan hati, serta mencerminkan kebersihan hati untuk membentuk
perilaku kita menjadi orang yang baik. Allah swt. mengingatkan dalam
Firman-Nya.
“Sifat-sifat yang baik itu dianugerahkan, melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 35)
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)
Apalagi
menunjukkan perilaku hati, yaitu memiliki sifat lapang dada, kemudian diiringi
dengan sifat pemaaf, Subhanallah buangeeet!
Sifat lapang dada juga merupakan sifat paling
menonjol yang dimiliki oleh Rasulullah saw. Bagaimana Rasulullah saw. berlapang
dada kepada kaum kafir Quraisy yang selalu berbuat jahat kepadanya, bahkan
berniat untuk membunuhnya. Tetapi Rasulullah saw. tetap berbuat baik kepada
mereka, terus mendakwahinya, dan mendoakannya. Rasulullah saw. berharap
diantara mereka ada yang mau mengikuti seruannya.
Rasulullah saw. mendoakan mereka, “Ya Allah, berilah hidayah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti.”
Seperti doa
Rasulullah saw. pada Umar bin Khattab ra. dan kepada ibunda Abu Hurairah ra. Subhanallah!
Benar adanya. Dengan kebaikan dan kelapangan dada Rasulullah saw., akhirnya
satu persatu dari kaum Quraisy itu masuk Islam.
Oleh karena itu, kita sebagai umatnya wajib untuk
meneladani sifat lapang dada Rasulullah saw. tersebut. Sebagaimana Firman Allah
swt. berikut ini.
“Sungguh telah datang seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa penderitaan, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)
“…mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami, dan janganlah engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. “Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Memiliki sifat lapang dada maksudnya, kita harus
mampu menggunakan hati kita untuk bergaul dengan orang lain dan mampu melihat
apa dan siapa disekitar kita dengan lapang dada. Sehingga kita dapat mendidik
diri kita untuk mengasihi dan menyayangi siapa saja dan hati kita dipenuhi oleh
kelembutan. Yang pada akhirnya kita dapat berlapang dada kepada orang yang
bodoh, orang yang zholim, bahkan sekalipun kepada orang yang selalu berbuat
jahat kepada kita. Allahu akhbar! Allah swt. berfirman dalam Alquran.
“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makhruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)
“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…” (QS. Ali Imran: 59)
Sungguh mulia apabila kita memiliki sifat lapang
dada. Perasaan ego tidak akan memenuhi hati kita, kita dapat membimbing
orang-orang yang bodoh untuk mencapai kepintaran, kita dapat menyadarkan
orang-orang zholim untuk melakukan yang benar, dan kita dapat mengantarkan
orang-orang yang memusuhi kita kepada hidayah. Subhanallah. Sebagaimana
Allah menjelaskan dalam Firman-Nya.
“Padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberi semata-mata) karena mencari keridhoan Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-lail: 19-21)
Apabila kita berlapang dada juga dapat menjauhkan
diri kita dari sifat takabur dan menyombongkan diri. Kita akan mampu menahan
emosi, jika kita marah, kita dapat menguasai keadaan pada saat dalam keburukan,
bahkan kita dapat menjadikan peluang keburukan menjadi kebaikan.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan melakukan amal sholeh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)
